Mutiara Kata:
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

NUR MUHAMMAD

Dalam kitab “Kashf al-Ghaibiyyah” (berdasarkan karangan asalnya “Daqa’iq al-Akhbar fi Dhikr al-Jannah wa al-Nar” karangan Imam ‘Abd al-Rahim bin Ahmad al-Qadhi, dan kitab “Durar al-Hisan” karangan al-Suyuti, dan “Mashariq al-Anwar” oleh Shaikh Hasan al-‘Adawi antara lainnya), oleh Syaikh Zain al-‘Abidin al-Fatani rh (Maktabah wa Matba’ah dar al-Ma’arif, Pulau Pinang, t.t.) Kitab ini dikarang oleh beliau pada tahun 1301 Hijriah. Pada halaman 3 dst. terdapat bab awal berkenaan dengan penciptaan roh teragung, (al-Ruh al-A’zam), yaitu nur Nabi kita Muhammad ‘alaihis-salatu was-salam. Kata beliau:

“Sesungguhnya telah datang pada kabar bahwasannya Allah ta’ala telah menjadikan satu pohon kayu baginya empat dahan, dan menamainya Syajarat al-Muttaqin (Pokok Orang-orang yang bertaqwa),  dan pada riwayat lain dinamai Shajarah al-Yaqin (Pokok Keyakinan), kemudian menjadi Nur Muhammad dihijab  permata yang sangat putih, bak burung merak diatas pohon , maka  bertasbihlah Nur  atas pohon kayu itu,  tujuh puluh ribu tahun, kemudian menjadi akan cermin kemaluan maka dihantarkan akan dia dengan berhadapannya; maka tatkala menilik oleh merak itu di dalam cermin itu melihat ia akan rupanya terlebih elok dan terlebih perhiasan kelakuan, maka malu ia daripada Allah taala, maka lalu berpeluh ia maka titik daripadanya enam titik, maka menjadi oleh Allah taala daripada titik yang pertama akan ruh Abu Bakar radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kedua itu akan ruh ‘Umar radiya’Llahu ‘anhu dan daripada titik yang ketiga itu akan ruh ‘Uthman radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang keempat itu akan ruh ‘Ali radiya’Llahu ‘anhu, dan daripada titik yang kelima itu akan pohon bunga mawar dan daripada titik yang keenam itu akan

Kemudian disebut bagaimana Nur Muhammad itu sujud lima kali, dengan itu, menjadi fardu sujud, lalu difardukan sembahyang yang lima waktu atas Muhammad dan ummatnya. Kemudian disebut Allah menilik kepada nur itu, lalu ia malu, berpeluh kerana malunya. Daripada peluh hidungnya, Allah jadikan malaikat, daripada peluh mukanya Allah jadikan ‘Arasy, Kursi, Lauh dan Qalam, matahari, bulan, hijab, segala bintang, dan barang-barang yang ada di langit. Daripada peluh dadanya dijadikan anbia, mursalin, ulama, syuhada dan solihin. Daripada peluh belakangnya dijadikan Bait al-Ma’mur, Ka’bah, Bait al-Maqdis, dan segala tempat masjid dalam dunia.

Disebutkan beberapa kejadian lagi daripada peluhnya itu:

Daripada peluh dua kening: mukminin dan mukminat dari umat Muhammad;
Daripada peluh dua telinganya: arwah Yahudi dan Nasrani, dan Majusi, golongan mulhid, kafir yang engkar kebenaran, munafikin.
Daripada peluh dua kaki: segala bumi dari Timur dan Barat dan yang ada di dalamnya (hal. 4)

Kemudian Allah memerintah nur itu supaya memandang ke hadapan, di hadapannya ada nur, di kanan dan kirinya juga nur. Mereka itu ialah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Uthman, dan ‘Ali. Kemudian Nur itu mengucap tasbih selama tujuh puluh ribu tahun.

Kata pengarang: Dijadikan nur para anbia daripada Nur Muhammad s.a.w.; ertinya dijadikan arwah para anbia daripada peluh ruh Muhammad s.a.w., dan dijadikan segala ruh umat anbia itu daripada peluh arwah anbia mereka itu.

Kemudian diriwayatkan bahawa dijadikan oleh Allah kandil daripada akik yang merah, dilihat orang akan zahirnya itu daripada bahagian dalamnya, kemudian dijadikan rupa Muhammad seperti Baginda di dunia ini, kemudian diletakkan di dalam kandil tersebut, berdiri Baginda di dalamnya seperti berdirinya di dalam sembahyang; kemudian berkeliling roh segala anbia dan lainnya di sekeliling kandil nur Muhammad ‘alaihis-salam, mengucap tasbih dan mengucap tahlil mereka itu selama seratus ribu tahun; kemudian Allah menyuruh segala ruh itu menilik kepadanya; yang menilik kepada kepalanya menjadi khalifah dan sultan antara sekelian makhluk; yang menilik kepada dahinya menjadi amir yang adil; yang menilik kepada dua matanya menjadi hafiz kalam Allah; yang melihat dua keningnya menjadi tukang lukis; yang melihat kepada dua telinganya jadilah ia menuntut dengar dan menerima (pengajaran); yang melihat dua pipinya jadilah ia berbuat baik dan berakal; yang melihat dua bibir mulutnya menjadi orang-orang besar raja. Yang melihat hidung menjadi hakim dan tabib dan penjual bau-bauan. Yang melihat mulut menjadi orang puasa. Demikian seterusnya dengan melihat anggota tertentu, jadilah orang itu mempunyai sifat-sifat tertentu di dunia nanti. Misalnya yang melihat dadanya menjadi orang alim, mulia dan mujtahid. (hal. 5). Dan orang yang tidak menilik sesuatu kepadanya jadilah ia mengaku menjadi Tuhan seperti Fir’aun dan yang sepertinya. (hal. 5).

Beliau menyebut hadith qudsi ( كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف )

“Adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku kehendak akan diperkenal akan daku maka Aku jadikan segala makhluk supaya dikenalnya akan daku.” (hal. 6)

Kemudian beliau menyebut hadith Nabi s.a.w. أول ما خلق الله تعالى نورى وفى رواية روحى

Artinya: “Yang awal-awal barang yang suatu dijadikan Allah taala itu nurku (dan pada suatu riwayat – ruhku).” Kata pengarang ini: Maka adalah sekelian alam ini dijadikan Allah subhanahu taala daripada sebab nur Muhammad s.a.w. seperti yang telah tersebut. Lalu ia menyebut pula hadith qudsi: خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك لاجلى

Artinya: “Aku jadikan segala perkara itu karena engkau ya Muhammad dan Aku jadikan akan dikau itu karena Aku, yakni dijadikan nur Muhammad itu dengan tiada wasitah suatu jua pun.”

Dipetik dari: ‘KONSEP NUR MUHAMMAD DI DUNIA MELAYU DALAM KONTEKS WACANA SUNNI – SATU PENGAMATAN AWAL’ OLEH: MUHAMMAD ‘UTHMAN EL-MUHAMMADY (UEM)