Khutbah ini diringkas dari maidhoh Almukarom Kyai Moch. Muchtar Mu’thi
dalam pengajian Lailatul Mubarokah 17 Romadlon 1429 H, di Losari – Ploso – Jombang
Didalam kitab “Tanbighul Ghofilin” (Pengingat orang lupa) karangan Moch. Nashor bin Ibrohim – Samarkand, pada bab Fadhlush Shodaqoh (keutamaan shodaqoh) halaman 113 terdapat sabda Rosululloh SAW keterangan dari Shohabat Abi Dzarr Al Ghiffari yang berbunyi “Assholatu ‘imaadul islam, wal jihaadu tsanaamul amal, wasshodaqotu syai’un ‘ajiibun wasshodaqotu syai’un ajiibun, wasshodaqotu syaiun ajiibun”. “Sholat itu tiang Islam, berjuang dengan sungguh-sungguh (jihad) adalah luhurnya amal, shodaqoh itu sesuatu yang ajaib, shodaqoh itu sesuatu yang ajaib, shodaqoh itu sesuatu yang ajaib.”
Dalam hadits ini Rosululloh menyebut tentang shodaqoh sebanyak tiga kali.
*******
Assholatu ‘imaadul Islam – “sholat adalah tiang Islam”
Kata Islam memiliki beberapa makna, diantaranya berarti ‘kesela-matan’, ‘perdamaian’, ‘penyerahan bulat-bulat kepada Alloh’, dan berarti juga ‘untuk mencapai keluhuran’. Jadi sholat merupakan tiang keselamatan, tiang perdamaian, tiang penyerahan bulat-bulat kepada Alloh, dan sholat juga untuk mencapai hidup yang luhur.
Mengapa sholat menjadi tiang keselamatan, tiang perdamaian, tiang penyerahan bulat-bulat kepada Alloh, dan untuk mecapai hidup yang luhur? Pelaksanaan sholat wajib sehari semalam didalamnya terdapat doa wajib. Artinya jika do’a ini tidak dilaksanakan maka batal sholatnya. Diantara doa itu ialah mendoakan masyarakat dengan tiga macam tujuan.
Pertama, mendoakan agar masya-rakat menjadi selamat. Selamat jiwanya, badannya, keluarganya, harta bendanya, dan lain sebagainya. Doa pertama ini dikemas dalam satu kalimat “assalam” (keselamatan). Kedua, mendoakan agar terbentuk masyarakat yang kasih sayang, saling menghormati, saling menghargai, saling mencintai, saling meng-ingatkan, tolong menolong, dan toleransi. Do’a ini dikemas dalam satu kalimat “Arrohmat”. Ketiga, masyarakat didoakan agar kebaikan di masyarakat itu berkembang dan lestari. Do’a ketiga ini dikemas dalam satu kalimat “Barokah”.
Doa tahiyyat terakhir didalam sholat bunyinya “Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh” dengan menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Hal ini berarti do’a dalam sholat bukan untuk kepentingan pribadi. Dalam sholat sehari semalam sebanyak lima kali kita mendoakan masyarakat. Dengan demikian sholat itu adalah tiang perdamaian, tiang kerukunan.
Saat salam menengok ke kanan merupakan isyarat do’a bagi “masya-rakat yang positif” agar kebaikannya lestari dan berkembang. Sedang ketika menengok kiri bertujuan mendo’akan masyarakat yang kurang beruntung agar menjadi masyarakat yang positif.
Jadi dengan demikian di dalam hati kita timbul harapan mudah-mudahan masyarakat selamat, damai, sejahtera, dan kebaikannya berkem-bang terus. Harapan itu harus ada salam, rohmat, dan barokah.
******
Wal jihaadu tsanaamul amali – “Jihad / berjuang sungguh-sungguh adalah luhurnya amal”
Berjuang seperti apa yang dimaksud ? Setelah melaksanakan ibadah sholat umat muslim akan kembali ke dalam masyarakat. Berjuang di masyarakat bertujuan mewujudkan harapan salam, rohmat, dan berkah. Itu namanya jihad untuk mewujudkan harapan di dalam doa agar menjadi realita, menjadi fakta dan aktualisasi. Jadi tidak cukup hanya berdoa saja. Sebab jika setelah sholat dan kembali ke dalam masyarakat tapi membuat ribut itu namanya munafik karena tidak cocok dengan harapan-nya. Membuat ribut, menipu, korupsi, berbohong, jelas tidak sesuai dengan doa dan harapannya. Munafiq itu pendusta agama. Makanya di dalam QS “Al Maaun” diterangkan “Aroaital ladzii yukadzibubiddin” – “Muhammad, kamu tahu orang pendusta agama itu?” Muhammad jawab “tidak tahu Tuhan”.
“fadzaallikalladzii yadu’ul yatiim” – “orang yang membiarkan nasibnya anak-anak yatim sampai tidak makan”
” Falaa yakhuddhu alaa tho’aamil miskiin” – “yang tidak menyediakan makanan orang2 miskin”
“fawailullil mushollin” – “kalau begitu orang-orang yang sholat diancam dengan neraka weil, karena dusta”
Sungguh kita takut ancaman “fawailullilnushollin” ini.

*****
Wasshodaqotu syaiun ajiibun – “shodaqoh itu sesuatu yang ajaib”
Mengapa Rosul menyebut sho-daqoh itu sesuatu yang ajaib sampai tiga kali? Sebab berjuang untuk mewujudkan tiga harapan tersebut membutuhkan biaya. Karena berharap saja tanpa jihad adalah pelit. Jangan mengharap barokah jika tidak melaksanakan shodaqoh. Sebab dari shodaqoh itu sebagian dipergunakan untuk memperjuangkan tiga hal diatas.
Bagaimana masyarakat bisa selamat, aman, damai dan rukun ?
Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, didalamnya yang kaya disamping yang tidak beruntung juga lebih banyak. Tapi jika mau bershodaqoh tentu masyarakat tidak sampai semacam ini. Padahal jika sholat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka sholat itu mencegah dari perbuatan fakhsya’ wal munkar – “tanhaa ‘anil fakhsyaai wal munkar”.
Sebelum melakukan sholat juga diwajibkan berwudlu. Artinya setelah dicuci selanjutnya diisi amal sholeh supaya di masyarakat tidak seenaknya sendiri. Wudhu menggunakan air, tapi jika tidak ada air maka tayammum memakai tanah. Hubungan ini berarti pendidikan cinta “Tanah – air”. Tapi aneh umat Islam tidak cinta tanah air?
Dalam surat Ma’arij diterangkan : “wafii amwaalihim haqqun makluum” – “Didalam harta benda mereka ada hak yang diketahui bagi orang yang minta maupun yang tidak minta”. Jadi didalam harta benda kita terdapat hak orang miskin. Maksudnya bukanlah kita memberi tapi menyampaikan hak kaum miskin. Dengan sholat yang “Ma’arij” semacam ini sholat itu akan menjadi langgeng.
Jadi dalam sholat lima waktu kita berdo’a mudah-mudahan masyarakat dalam keadaan selamat, aman, tertib. Apa artinya hidup kalau tidak barokah? Apa artinya rizqi yang banyak kalau tidak barokah? Apa artinya pengikut banyak kalau tidak barokah Semuanya seperti buih kalau tidak barokah.