WONG TELU {ORANG TIGA} MENCIPTAKAN KEDAMAIAN DIMANA BETA BERADA.

Selamat datang Komisi Ombudsman di Desa Bk Temenggungan

img001
Apakah sidak akan dilaksanakan oleh komisi ombudsman nasional sehubungan dengan adanya kasus yang ada di Desa Bakung Temenggungan.
kasus yang menimpa saudara Roni ini tidak yang pertama kalinya, bahkan banyak kasus yang ada didesa ini, bahkan kades beberapa kali melaksanakan hukum adat desa tanpa adanya perdes yang mendukung hukum adat didesa setempat.

Asal Muasal kabupaten Sidoarjo

Pada tahun 1851 Sidoarjo masih bernama Sidokare yang merupakan bagian dari daerah Kabupaten Surabaya. Saat itu Sidokare dipimpin oleh seorang Patih yang bernama R.Ng.Djojohardjo dan dibantu oleh seorang wedono bernama Bagus Ranuwirjo. Baru pada tanggal 31 Januari 1859 berdasarkan keputusan Hindia Belanda No. 9 /1859 Staatsblat No. 6 Kabupaten Surabaya dipecah menjadi 2 , yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare dipimpin oleh seorang Bupati.
Bupati pertama Sidokare adalah RT.NOTOPURO ( RTP. TJOKRONEGORO I ) yang merupakan putra Bupati Surabaya dan bertempat tinggal di Pandean ( Sidoarjo Plasa Sekarang ). Pada masa pemerintahan beliau inilah didirikan masjid di Pekauman ( Masjid ABROR ).

Berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda No. 10 / 1859 tanggal 28 Mei 1859 Staatsblat No. 32 nama Kabupaten Sidokare diganti dengan Kabupaten Sidoarjo. Tahun 1862 Bupati Tjokronegoro I memindahkan rumah Kabupaten dari kampung Pandean ke kampung Pucang ( Wates ). Disini beliau mendirikan Masjid Jami’ ( Masjid AGUNG ) dan disebelah barat masjid dijadikan Pesarean Pendem ( Asri ). Ketika beliau wafat tahun 1863, jasad beliau disemayamkan dipesarean tersebut.

Sebagai penggantinya diangkatlah Kanjeng Djimad Djokomono kakak almarhum , sebagai Bupati Sidoarjo ke dua dengan gelar RTAA Tjokronegoro II. Pada masa ini pembangunan Masjid Jami’ dan perbaikan pesarean Pendem dilanjutkan, ditambah dengan pembangunan kampung Mager Sari.

Tahun 1883 Bupati RTAA Tjokronegoro II mendapat pensiun, kemudian wafat dimakamkan dipesarean Botoputih Surabaya. Penggantinya adalah RP Sumodirejo, pindahan dari Tulungagung yang hanya memerintah selama 3 bulan karena wafat dan dimakamkan dipesarean Pendem.

Selanjutnya pada tahun itu juga diangkatlah RAAT Tjokronegoro I sebagai Bupati Sidoarjo. Pada tahun 1895 beliau menyempurnakan pembangunan Mesjid Jami’ dengan pemasangan marmer untuk memperindah masjid dan menetapkan pesarean bagi para Bupati dan keluarga, Penghulu dan segenap ahlul masjid berada dipekarangan masjid Jami’
Pada waktu Kabupaten Sidoarjo terdiri dari 6 Kawedanan (distrik) :
1. Djenggolo I Kawedanan Gedangan;
2. Djenggolo II Kawedanan Sidoarjo;
3. Djenggolo III Kawedanan Krian;
4. Djenggolo IV Kawedanan Taman;
5. Rawa Pilo I Kawedanan Porong;
6. Rawa Pulo II Kawedanan Bulang.
Nama – nama ini mulai hilang kira-kira pada tahun 1902. Tentang sistim pemerintahan pada masa itu memakai sistim sentralisasi dan hirarkis, yaitu Wedono dibawah perintah Bupati dan Camat dibawah Perintah Wedono.

Bupati RAA Tjondronegoro I wafat tahun 1906 dan dimakamkan di Pesarean belakang masjid Jami’. Sebagai gantinya adalah RP Samiun, bergelar RAA Tjondronegoro II yang diangkat pada tahun itu juga. Setelah memerintah selama kurang lebih 18 tahun, beliau pensiun ( 1924 ). Setelah itu selama 2 tahun (1924-1926) Kabupaten Sidoarjo vakum (tidak ada Bupatinya).

Pada tahun 1926 RTA Sumodipuro diangkat menjadi Bupati. Setelah menderita sakit berkepanjangan pada tahun 1932 beliau pensiun. Selama satu tahun jabatan Bupati kosong lagi dan baru tahun 1933 RAA Suyadi yang semula Patih Madiun diangkat menjadi Bupati.
Sejak 8 Maret 1942 hingga 15 Agustus 1945 Daerah Delta Brantas berada dibawah Kekuasaan Militer Jepang, sebagaimana halnya daerah-daeah di Indonesia lainnya. Selama masa pendudukan Jepang ini Bupati Sidoarjo tetap dijabat oleh Bupati RAA Suyadi.
Pemerintah Republik Indonesia
Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu, didaerah-daerah mulai dibentuk badan atau perkumpulan yang bersifat Nasional. Pada saat itu yang berkuasa didaerah Delta Berantas adalah Kaigun (tentara laut Jepang). Badan – badan atau perkumpulan yang bersifat Nasional mulai bibentuk dengan nama BKR dan PTKR. Pada permulaan Maret 1946 Belanda kembali ke daerah kita. Pada waktu menduduki Gedangan Pemerintah memandang perlu untuk memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Sidoarjo ke Porong.
Pemerintahan Recomba (1946-1949).
Tanggal 24 Desember 1946 Belnda menyerang Kota Sidoarjo. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dipindahkan lagi yaitu kedaerah Jombang . Sesudah Negara Jawa Timur dibentuk daerah Delta Berantas ini masuk daerah Negara Boneka tersebut. Mulai saat itu Daerah Sidoarjo berada dibawah pemerintahan Recomba yang berjalan hingga tahun 1949. Pada waktu itu Bupati Sidoarjo adalah:
1. K. Ng. Soebakti Poespanoto;
2. R. Suharto.
Tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan kembali Pemerintahan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada waktu itu juga daerah Delta Brantas menjadi daerah Republik Indonesia.
Sesudah penyerahan kembali kedaulatan.
Sesudah penyerahan kembali kedaulatan kepada Pemerintah RI berdasarkan Undang-Undang Nomor 22/1948. R Suryadi Kertosoeprojo diangkat menjadi Bupati/Kepala Daerah di Kabupaten Sidoarjo

SEJARAH SYEIKH SITI JENAR

SIAPAKAH SYEIKH SITI JENAR

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al- Husaini,
dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa
mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara
Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau
Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit. Syaikh
Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib
keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya
adalah

Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali]
bin Sayyid Shalih
bin Sayyid ’Isa ’Alawi
bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin
bin Sayyid ’Abdullah Khan
bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan
bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih
bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath
bin Sayyid ‘Ali Khali Qasam
bin Sayyid ‘Alwi Shohib
Baiti Jubair
bin Sayyid Muhammad Maula Ash- Shaouma’ah
bin Sayyid ‘Alwi al- Mubtakir
bin Sayyid ‘Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir
bin Sayyid ‘Isa An-Naqib
bin Sayyid Muhammad An-Naqib
bin Sayyid ‘Ali Al-‘Uraidhi
bin Imam Ja’far Ash-Shadiq
bin Imam Muhammad al-Baqir
bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid
bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra
binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di
Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya
Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan
Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an
usia 12 tahun. Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya
berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka
ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti
Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan
Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu.
Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.
Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di
Malaka. Kemudian pada tahun 1424 M, Ada
perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad
Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.
Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak
dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid
Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin
Sayyid Ahmad. Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah
sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al- Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus
Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid
Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah
kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20
tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-
Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu: 1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-
Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina
Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur,
Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa
Tenggara, Maluku, dan sekitarnya 2. Sayyid Ahmad
Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir
dan sekitarnya, 3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina
Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat,
Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara 4.
Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far
al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan,
India, Yaman. Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti
Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus
Al- Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil
karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya
Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al- Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli,
Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli
karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub
karya Abu Thalib al-Makkiy. Sedangkan dalam ilmu
Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan
Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun. Setelah
wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk
menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-
Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman
bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar
adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf
Sinkiliy, dan lain- lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH

adalah: 1.Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari
cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat
manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal
dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah
naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih
aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah,
2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut
dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded,
sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit
kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun
diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu
berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang
manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…. 2.
“Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang
diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa
penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak
berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-
kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal
Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda
penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti.
Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid,
yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in
Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”.
Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid
Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani
dan Tauhid Syar’iy. 3. Dalam beberapa buku
diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan
Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri
halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya
berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun,
saya melihat dengan mata kepala saya sendiri,
bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati,
bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa.
Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir
“Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi,
tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis,
puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat
dia meninggalkan sholat Jum’at”. 4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti
Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya
berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu
penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang
cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab,
seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis
menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir
jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum
sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan akan
wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan
riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya
kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti
Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di
Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat
Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat
akan melaksanakan sholat shubuh. 5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah
bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu
hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar
kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau
sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak
Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu
memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah].
Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin
yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.
Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari
keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa
diterima akal sehat. Penghancuran sejarah ini,
menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi
Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah
belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni
dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah
mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan
Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan
3 kelas: 1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah,
Sultan Demak] 3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar] Wahai kaum
muslimin…melihat fenomena seperti ini, maka kita
harus waspada terhadap upaya para kolonialist,
imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok
orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-
hati….jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah.
Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan
Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

ISTILAH MAQAM

Istilah maqâm (jamak: maqâmât), sebagaimana juga hâl (jamak: ahwâl), dipahami secara berbeda-beda oleh para sufi sendiri. Meskipun demikian, kesemuanya sepakat me-mahami maqâmât bermakna kedudukan seorang pe¬jalan spiritual di hadapan Allah dan kedekatan dengan-Nya, yang diperoleh melalui laku tasawuf (suluk) dalam bentuk kerja keras dalam beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujâhadah), dan latihan-latihan keruhani¬an (riyâdhah), sedemikian sehingga ia mencapai kelu¬huran budi-pekerti (âdâb) yang memampukannya untuk memiliki persyaratan-persyaratan mencapai kesempurnaan setinggi-tingginya.
Sedangkan hâl (jamak: ahwâl ) adalah suasana atau keadaan yang menyelimuti (baca : menguasai) kalbu, yang diciptakan (sebagai “hak prerogatif ”) Allah dalam hati manusia, tanpa sang sufi mampu menolak keadaan itu apabila datang, atau mem¬pertahankannya apabila pergi. Dengan kata lain, maqam bersifat tetap dan stabil, sedangkan hâl bersifat temporer.
Maqâmât adalah stasiun-stasiun yang (harus) dilewati oleh para pejalan spiritual sebelum bisa mencapai ujung per¬ja¬lan¬¬¬an, baik itu disebut ma‘rifah, ridhâ, maupun mahab¬bah (ke¬cin¬ta¬an) kepada Allah Swt. Sedangkan hâl ada¬lah ke¬adaan-ke¬adaan spiritual-sesaat yang dialami oleh para pejalan ini di tengah-tengah perjalanan ini. Umumnya Sufi melihat hâl- hâl tertentu sebagai dampak dari perolehan maqam-maqam tertentu yang berhubungan dengan itu. Dengan kata lain suatu hâl yang dikaruniakan oleh Allah kepada seorang pejalan sufi adalah selaras dengan ketinggian maqâm yang dicapainya.
Namun, Ibn ‘Arabi memiliki pandangan yang berbeda. Pertama, menurut Syaikh Akbar ini, jumlah maqâm jauh lebih banyak dari yang biasa diungkapkan para Sufi pada umumnya. Dia menyebut bahwa maqâm berjumlah tak kurang dari 60. Lebih dari itu, Ibn ‘Arabi terkesan tak terlalu mementingkan sistematika maqmât, sebagaimana para Sufi pada umumnya. Demikian pula halnya dengan hâl. Menurut Ibn ‘Arabi, hâl adalah semacam tindakan (terpaan) dari Allah – sebagai bagian tajalliy-nya secara terus-menerus ke dalam ciptaan-ciptaannya. Maka, dalam konteks ini, hal adalah manifestasi (tanda, pengejawantahan) tajalliy Allah dalam diri seseorang.
Dalam pemahaman yang berbeda, masih menurut Ibn ‘Arabi, hal adalah suatu keadaan yang dapat dioperasikan oleh seseorang yang telah mencapai persyaratan tertentu untuk membawa terpaan itu “turun” ke dunia orang kebanyakan. Dalamhal ini, Ibn ‘Arabi masih merasa perlu mewanti-wanti bahwa kondisi hâl membawa risiko-risiko tersendiri. Yakni, bahwa orang yang mendapatkan terpaan (warid) seperti ini, tidak cukup kuat menanggungnya sehingga dampaknya bisa berupa ketidaksadaran (yang dapat mencetuskan syathâhat); atau malah dapat menimbulkan perasaan kesombongan jika ia dimanfaatkan untuk menunjukkan kemampuan-kemampuan supranatural (karamah) yang biasa mengikutinya. Orang-orang yang mendapatkan hâl seperti ini memang mengalami apa yang disebut sebagai semacam fath atau mukâsyafah yang memungkinkannya membuka akses kepada alam malakut atau alam mitsal sehingga memampukannya melihat kejadian-kejadian yang terjadi di tempat yang jauh dari keberadaannya – dengan kata lain tak (pernah) dilihatnya – atau kejadian-kejadian yang belum terjadi, atau pun masalah-masalah lain yang gaib bagi orang kebanyakan. Bahkan Ibn ‘Arabi tak selalu melihat hal sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya,karamah – yakni kemampuan untuk menembus hukum alam (khariq lil-‘adah) bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang tak beriman, seperti tukang sihir dan sebagainya.Terkadang, pengalaman hal adalah pengelabuan (makar, makr) dari Allah untuk menguji seseorang. Adalah ketaatan kepada syari’ah, dan keberadaan seorang Syaik sebagai pembimbing, yang dapat menghindarkan seorang sufi dari mendapatkan risiko yang mungkin terjadi.

Meski keberadaan maqâmât dan ahwâl ini umumnya merupakan suatu kesepakatan di kalangan para sufi, ia tentu saja adalah hasil ijtihad mereka dan bukan merupakan suatu bagian dari kepastian-kepasti¬an aturan Islam (qath‘iyyât ). Karena itu, bukan saja pe¬ngertian ini tak dijumpai di kalangan di luar tasawuf, bahkan – seperti sudah disinggung di atas — para sufi sendiri berbeda-beda dalam perin¬cian¬nya, seperti akan disinggung di bawah.

Yang pasti, pengertian-pengertian ini diperkenalkan sebagai bagian penting dari disiplin tasawuf, yang de¬ngannya tujuan perjalanan spiritual—baik itu pe¬ma¬haman tentang Allah, Keridhaan, maupun Cinta-Nya bisa dicapai secara lebih sistematis—dan dengan demi¬kian, se¬cara lebih “praktis” dan pasti. Ia merupakan ke¬sim¬¬pulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pema¬haman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqâmât dan ahwâl dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demi¬kian, boleh jadi tak semua pejalan spiritual harus meng-ikuti, menjalani, atau mengalami maqâmât dan ahwâl persis sebagaimana yang disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian maqam untuk me-raih hâl itu. Dan semuanya itu diyakini menun¬tut upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam mela¬wan hawa nafsu (mujâhadah), dan latihan-latihan ke¬ru¬¬hanian (ri¬yâdhah).
Al-Kalabadzi menyebutkan adanya 10 maqâm (sta¬siun) yang (harus) dilalui oleh para pejalan spiritual sebagai berikut: al-taubah (taubat), al-zuhd (zuhud), al-shabr (sabar), al-faqr (kemiskinan), al-tawâdhu‘ (ke¬rendahhatian), al-taqwâ (takwa), al-tawakkul (tawakal), al-ridhâ (rela), al-mahabbah (cinta), dan al-ma‘rifah (pengetahuan tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu).
Al-Ghazali, menyebutkan lebih sedikit stasiun sebagai berikut: al-taubah, al-shabr, al-faqr, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma‘rifah, dan al-ridhâ.
Ahli yang lain, terkadang menambahkan stasiun yang lain dalam urutan maqâmât, seperti al-wara‘ (kehati-hatian, untuk tak melanggar perintah Allah), dan seba¬gainya. Meski demikian, apa yang disebutkan Al-Kalabadzi dan Al-Ghazali di atas kiranya cukup mewa¬kili pemahaman umum para sufi tentang maqâmât ini.
Perbedaan jumlah dan urutan ini dapat terjadi karena perbedaan cara pemahaman sehubungan dengan istilah-istilah tertentu dalam rangkaian maqamat yang dirumuskan para sufi tersebut, atau perbedaan kondisi yang menyebabkan diperlukannya perbedaan program latihan yang berbeda.
Berkenaan dengan hâl, Abu Nashir Al-Thusi menye¬butkan sembilan macam, sebagai berikut: al-murâ¬qabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah), al-qurb (perasaan kedekatan kepada Tuhan), al-mahabbah’ (cinta kepada Tuhan), al-khauf wa al-rajâ’(pe¬rasa¬an harap-harap-cemas terhadap Allah), al-syauq (perasaan rindu), al-uns (perasaan bersahabat dengan Allah), al-thuma’nînah (perasaan tenteram), al-musyâ¬hadah (perasaan menyaksikan Tuhan—dengan mata hati), dan al-yaqîn (perasaan yakin kepada-Nya).
Seperti dapat dilihat sebuah hal—dalam hal ini al-mahabbah—terkadang disebut oleh sebagian ahli sebagai termasukmaqâmât, tapi oleh yang lain dikelompokkan ke dalam ahwâl. Dan se¬ba-liknya. Tampaknya, lagi-lagi, ada persoalan dalam perbedaan pemahaman atas istilah-istilah yang dipakai yang berakibat pada perbedaan penempatan suatu keadaan ke dalam maqam atau hal.[Islam-Indonesia]

MURAQABAH SINYAL DARI ALLAH

MURAQABAH: SINYAL DARI ALLAH

Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi Ahli Silsilah ke-32 dalam kitabnya Ar Risalah Majemu’atul Khalidiyah An Naqsyabandiyah mengatakan : “Zikir Muraqabah ialah berkekalannya seorang hamba ingat pada dirinya senantiasa dimonitor oleh Tuhannya dalam seluruh keadaan tingkah lakunya”.
Muraqabah artinya saling mengawasi, saling mengintai atau saling memperhatikan. Dalam kajian Tasawuf/Tarekat, muraqabah dalam pengertian bahasa tersebut, terjadi antara hamba dengan Tuhan nya. Muraqabah bisa juga digambarkan sebagai intai mengintai antara hamba dengan Tuhan nya. Sebagian Syekh menggambarkan Muraqabah itu adalah saat dimana ucapan salam seorang hamba dijawab oleh Tuhan.
Firman Allah SWT :
1. Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu (Q.S. Al Ahzab 33:52)
2. Adakah Zat yang Maha Menjaga tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya (Q.S. Ar Ra’da 13:33).
3. Apakah Manusia tidak mengerti bahwa Allah itu Maha Melihat? (Q.S. Al Alaq 96:14).
4. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Q.S. An Nisa 4:1).
5. Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya (Q.S Bayyinah 98:8).
Sabda Rasulullah SAW :
“Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jikalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia itu melihat engkau” (H.R. Muslim)
Dari ayat-ayat dan hadist tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa muraqabah berarti mawas diri seorang hamba terhadap khalik nya bahwa Allah mengawasi, mengintai dan memperhatikan kita, niat dan amal-amal hambanya. Sebaliknya seorang hamba harus mawas diri terhadap hati, niat dan amal yang telah dikerjakan untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Nya.
Al Qusyairi menyatakan, “Orang yang belum mengukuhkan rasa takutnya kepada Allah dan mawas dirinya terhadap-Nya, tidak akan mencapai kasyaf (terbuka tabir antara si hamba dengan Allah) dan syahadah (menyaksikan Allah”.
Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi mengutip hadist Nabi mengatakan bahwa di akhir zaman nanti ilmu akan di cabut oleh Allah dan banyak ulama yang meninggal. Makna Ilmu dicabut tersebut menurut Beliau adalah hilangnya Muraqabah dalam diri seseorang sehingga sinyal-sinyal yang dikirim oleh Allah SWT kepada manusia tidak dapat ditangkap lagi dikarenakan hati manusia telah kotor oleh dosa-dosa.
Muraqabah menurut Beliau adalah suatu karunia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang selalu berubudiyah kepada-Nya, selalu mengekalkan zikir dimanapun dia berada dan terus menerus menjaga hatinya agar tidak dikotori dengan sifat-sifat tercela. Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa muraqabah adalah bersifat teknis dan seorang hamba akan selalu bisa merasakan keinginan Tuhan. “Tidak wara’ kalau tidak menunggu” begitulah Beliau selalu berfatwa kepada murid-muridnya. Apa yang ditunggu? Yang ditunggu adalah sebuah gerak yang merupakan Kudrah dan iradah Allah sebagai bentuk persetujuan Allah atas apa yang akan kita lakukan. Ketika kita hendak melangkah keluar dari rumah, terlebih dahulu kita mohonkan izin kepada Allah. Oleh karena itu ucapan Insya Allah merupakan ucapan yang sangat tinggi nilainya. Insya Allah berarti “kalau Allah mengizinkan”. Pertanyaannya kapan kita meminta izin kepada Allah? dan bagaimana kita tahu Allah telah memberikan izin kepada kita?. Kebanyakan dari kita ucapan Insya Allah itu tidak lebih dari ucapan basa-basi saja karena kita belum memiliki ilmu Muraqabah yaitu ilmu meminta izin dan persetujuan dari Allah.
Saidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi yang bertempat tinggal di kota Batam mengatakan, “Apabila air tidak mengalir coba periksa ke hulu, barangkali ada sampah dan kotoran lain yang menyumbat sehingga air tidak sampai ke hilir. Singkirkan sampah itu barulah nanti air akan mengalir”. Jika muraqabah tidak datang dalam sehari, kita selaku murid sudah harus waspada, mengoreksi diri kesalahan apa yang kita perbuat sehingga sinyal Allah tidak bisa ditangkap oleh hati kita. Mungkin ubudiyah kita masih kurang, atau shadaqah kita masih belum ikhlas, mungkin juga zikir kita masih ada kurangnya. Berulangkali Beliau mengingatkan murid-muridnya bahwa, “Barang siapa yang tidak menjaga amalan zikirnya maka lambat laun akan hilang semua karunia Allah walau dia ahli Kasyaf (orang yang telah terbuka hijab) sekalipun”
Muraqabah dalam pengertian teoritis berupa sikap mawas diri, tetap waspada terhadap ibadah yang dilakukan terhadap Allah bisa didapat lewat pelatihan, akan tetapi Muraqabah dalam pengertian praktek itu hanya bisa didapat atas karunia Allah tentu atas bimbingan dan syafaat dari Guru Mursyid yang terus menerus mendo’akan murid nya agar selalu berada dalam karunia Allah SWT.
Ibnu Qayyim menjelaskan kronologi tentang proses turun nya wahyu dari Allah kepada Nabi salah satunya berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau; peristiwa ini merupakan pengalaman yang paling berat bagi beliau dimana malaikat memakai cara ini hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta beliau duduk bersimpuh ke bumi bila beliau menungganginya. Dan pernah juga wahyu datang seperti kondisi tersebut dan saat itu paha beliau ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk.
Bagaimana bunyi gemerincing lonceng tersebut? Apakah malaikat memukul lonceng seperti kode morse kemudian Nabi menterjemahkan dalam kata-kata? Atau kah sebuah kiasan tentang petunjuk atau sinyal yang dikirim oleh Allah SWT yang dikenal dengan muraqabah kemudian nabi menterjemahkan kehendak Allah tersebut kedalam kata-kata sehingga menjadi petunjuk kepada ummatnya.
Saya berandai-andai, misalnya bunyi gemerincing lonceng tersebut suaranya lebih besar di daerah perut kanan berarti tidak lama lagi akan ada yang mengantar makanan enak kepada Nabi, atau kalau suatu saat bunyi gemerincing lonceng tersebut dekat telinga kiri berarti musuh-musuh Nabi mempunyai rencana akan mencelakankan Nabi dengan demikian Beliau telah terlebih dahulu siap siaga.
Saya kan hanya berandai-andai dan tentu saja hanya Nabi sendiri yang mengetahui bagaimana bentuk bunyi gemerincing lonceng tersebut yang sangat berat bagi Beliau. Bisa jadi gemerincing lonceng yang saya maksudkan di atas salah namun bisa jadi benar juga.
Satu hal yang saya tahu bahwa orang-orang yang telah sampai kepada tahap Muraqabah seakan-akan mengetahui apa yang akan terjadi ke depan dan itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Bahkan musuh akan datang pun akan bisa terbaca lewat muraqabah.
Apakah Muraqabah itu maqam tertinggi? Tentu saja tidak karena di atas muraqabah itu adalah lagi maqam yang lebih tinggi. Muraqabah itu hanya bisa merasakan tanda-tanda yang dikirim oleh Allah sedangkan maqam di atas nya adalah maqam dimana kita bisa berdialog langsung dengan Allah tanpa hijab.
Kalau Muraqabah merupakan aplikasi dari firman Allah Wa nahnu aqrabu Ilahi min hablil warrid (dan kami hampir kepadanya daripada urat lehernya) Surat Qaf ayat 16, maka maqam selanjutnya adalah Muqabalah dimana seseorang hamba dalam berzikir dalam tahap rohaninya berhadap-hadapan dengan zat Allah yang wajibul wujud sebagaimana firman Allah Dalam surat Al-Baqarah ayat 115, “Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap disitu wajah Allah”.
Dan tentu saja maqam tertinggi adalah Maqam Baqabillah sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rahman ayat 27, “Dan akan tetap akan kekal Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan”. Para sufi mengatakan : “Fana dalam kebakaan Allah dan lenyap dalam kehadiran Allah”. Lalu bagaimana kita bisa sampai ke maqam baqabillah? Tentu harus melewati maqam fana fillah dimana seorang hamba berzikir dalam taraf lenyap/lebur rasa keinsanannya ke dalam rasa ketuhanan, ia telah fana dalam kebakaan Allah. Sebelum mencapai maqam fana fillah terlebih dahulu kita harus melewati maqam dimana hati kita selalu disertai oleh Allah dimanapun kita berada sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hadid ayat 4 “ Wa huwa ma’akum aina maa kuntum artinya Dia beserta kamu di mana pun kamu berada”.
Maqam Baqa Billah itu adalah maqam para wali dan maqam para Guru Mursyid yang setiap geraknya adalah gerak Allah sebagai firman Allah dalam hadist qudsi : “Mata-KU ada dimatanya kalau ia melihat, Tangan-KU ada ditangan-Nya kalau dia memegang…. Kalau dia berdoa niscaya AKU kabulkan”
Selaku penempuh salik (penempuh jalan kebenaran) tidak layak rasanya kita bertanya kapan maqam kita dinaikkan? Kapan rohani kita diangkat oleh Guru, yang harus kita kerjakan hanyalah berbuat dan berbuat. Kalau ingin nomor 1 maka kerjakan perkerjaan nomor 1. Tujuan kita berguru hanyalah mengharapkan ridha-Nya semata-mata bukan untuk mendapatkan maqam yang mulia dan tinggi. Kalau pun maqam kita dinaikkan itu tidak lain karena kehendak Dia semata-mata bukan karena usaha kita.
Semoga Allah SWT berkenan menuntun kita agar bisa sampai kehadirat-Nya. Tanpa kekuatan dari-Nya kita tidak berdaya apa-apa. Kita hanyalah si daif yang tidak berdaya apa-apa yang selalu mengharapkan belas kasih-Nya. Kita hanyalah seorang pendosa yang terkadang sering kali angkuh dan merasa suci dihadapan-Nya. Semoga kita bisa menjadi hamba yang hina, daif dan papa dihadapan Zat Yang Maha Segala-gala nya. Amien Ya Rabbal ‘Alamin
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad!
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa maulana Muhammad!
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa nabiyina wa habiibina wa syafii’na wa zukhrina wa maulana Muhammad!

MANTIK HAKIKAT DAN SEJARAHNYA

Mantik: Hakikat dan Sejarahnya

Salah satu perbedaan manusia dari binatang adalah kemampuannya untuk mengabstraksi sesuatu. Yakni, ketika inderanya menyerap suatu benda, akal bekerja melepaskan benda itu dari sifat-sifat material, lalu membandingkannya dengan benda-benda lain yang serupa dengannya dan memproduksi sebuah konsep bersama. Akal terus menerus mengabstraksi hingga mencapai sebuah konsepsi universal paling abstrak (basith) yang mewadahi semua wujud. Ketika ia melihat manusia, misalnya, imajinasinya mengabstraksi benda itu menjadi sebuah spiecies (nau’) yang menaungi semua manusia yang lain. Ia kemudian membandingkan konsep ini dengan konsep binatang, lalu mengabstraksinya menjadi sebuah genus (jenis) yang menaungi keduanya. Proses abstraksi ini berlanjut ketika ia membandingkannya dengan konsep tumbuhan, demikian seterusnya hingga mencapai genus tertinggi yang disebut substansi (jauhar).Pada saat itu, akal berhenti mengabstraksi.Ahli mantik berkata bahwa pengetahuan yang dicapai manusia hanya dua macam, yakni tashawwur (pengetahuan konseptual), tanpa menetapkan hukum apa-apa atasnya, dan tashdiq (pengetahuan relasional) antara dua hal dengan menetapkan penilaian benar atau salah. Atas dasar ini, aktifitas berpikir manusia hanyalah menyusun satu persatu konsepsi universal (kulliyyat) di otaknya untuk menghasilkan konsepsi universal baru yang sesuai dengan realitas, atau menilai sesuatu dengan sesuatu lainnya. Aktifitas berpikir ini bisa keliru dan bisa juga benar. Maka dibutuhkan sebuah aturan-aturan berpikir tertentu untuk menjaga akal dari kekeliruan berpikir.
Dan kumpulan aturan-aturan berpikir itu disebut mantik (logika).Sebenarnya, Aristoteles bukan orang pertama yang menyusun aturan-aturan berpikir ini, sebab sebelumnya Socrates dan Plato pernah berbicara tentang halini. Namun karena Aristoteles adalah orang pertama yang mengumpulkan dan menyusunnya, menetapkannya sebagai kunci ilmu pengetahuan serta menulisnya dalam sebuah karya, ia digelari sebagai “guru pertama”. Organon,bukunya tentang mantik, terdiri dari delapan bagian:
Categoria (membahas tentang genus dan bagian-bagiannya), Hermeneutika (tentang proposisi),Sylogisme (tentang qiyas), Demonstrasi (tentang qiyas yang menyimpulkan keyakinan), Dialektika (ilmu debat), Sofistika (qiyas yang menyesatkan), Retorika(seni agitasi massa) dan Poetica (seni menyusun kata-kata puitis).
Pada masa penerjemahan literatur asing atas perintah Khalifah Al Makmun (w.218 H), buku-buku ini menarik perhatian banyak cendikiawan muslim pada saatitu hingga beberapa dekade setelahnya. Abu Nashr Al Farabi, Abu Ali Ibn Sinadan Ibn Rusyd menulis berbagai komentar dan penjelasan tentang cabang ilmuini. Kemudian datang generasi selanjutnya yang menyempurnakan ilmu inidengan memandangnya sebagai ilmu tersendiri, bukan hanya ilmu alat(organon), dengan menambah yang kurang dan membuang yang tidak perlu.Orang pertama yang melakukan ini adalah Imam Fajruddin bin Al Khatib lalu Afdhaluddin Khawanji. Proyek mereka sungguh sukses sehingga berhasil menenggelamkan karya tokoh-tokoh sebelumnya dan mengalahkan metodemereka.

Al Ghazali dan Mantik

Sejak awal kehadirannya di dunia Islam, mantik menyalakan perdebatan sengit di kalangan para ulama, terutama ahli kalam. Mereka sangat anti kepada mantik dan melarang manusia untuk mempelajarinya. Ibn Khaldun berkata bahwa antipati ini lahir karena persinggungan prinsip ilmu kalam dengan mantik yang melahirkan pilihan: terima mantik maka tinggalkan kalam atau terima kalam maka tinggalkan mantik. Padahal, ilmu kalam adalah ilmu dasar yang bertugas menetapkan akidah islamiah menyangkut keesaan Allah dan kebaharuan alam semesta. Bahkan Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani menyatakan bahwa prinsip-prinsip ilmu kalam adalah bagian dari akidah. Menyerangnya sama dengan berusaha menghancurkan sendi-sendi akidah islamiah.Kemudian datang Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali (w. 505 H) yang mendamaikan keduanya. Kharisma dan argumentasinya berhasil mengakhiri perdebatan ini dan membuat ilmu mantik diterima di kalangan sunni. Meskiter kenal sebagai musuh besar filsafat, bahkan berhasil membuatnya pingsan dengan Tahafut ul Falasifah-nya, Al Ghazali sangat menyayang anak kandung filsafat ini.
Ia menulis beberapa karya tentangnya, antara lain Mi’yar ul-‘Ilm, AlMankhul, Mihak un-Nazhar, beberapa lembar di mukaddimah Al Mustashfa dan secara tersirat dalam dialog dengan seorang penganut Syiah Ismailiah di AlQisthas ul-Mustaqim. Berikut sedikit ringkasan tentang mantik ala Al Ghazaliyang bisa penulis tampilkan pada kesempatan kali ini.Seperti Al Farabi dan Ibn Sina, Al Ghazali berpendapat bahwa mantik adalah aturan-aturan berpikir yang berfungsi meluruskan akal dalam menarik kesimpulan dan membebaskannya dari campuran prasangka dan imajinasi.Tugas utama mantik dengan demikian adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir. Mantik bagi akal sepadan dengan posisi nahwu bagi bahasa Arab dan ilmu ‘Arud bagi ritme puisi (syair). Meminjam analogi Al Farabi, mantik bagi akal ibarat neraca dan takaran yang berfungsi mengukur bobot benda yang tak bisa diketahui ukurannya dengan tepat jika hanya menggunakan indera. Atau ibarat penggaris untuk mengukur panjang dan lebar sesuatu yang indera manusia sering keliru dalam memastikannya.Al Ghazali bahkan menegaskan bahwa mantik merupakan mukaddimah(organon) seluruh ilmu –bukan hanya pengantar filsafat. Maka barang siapa yang tidak menguasai mantik, seluruh pengetahuannya rusak dan diragukan.Sebagaimana telah dijelaskan di muka, pengetahuan manusia terbagi dua, yaitu tashawur dan tashdiq. Pengetahuan tashawur terbagi dua: pertama,pengetahuan yang telah ada di otak manusia sejak awal (a priori) sehingga pengetahuan tentangnya tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar. Contoh,pengetahuan tentang makna ‘ada’, ‘banyak’ dan beberapa benda-benda inderawi lainnya. Kedua, pengetahuan tentang konsep-konsep samar yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Untuk yang kedua ini diperlukan sebuah definisi(had/ta’rif) yang memperjelas makna kata tersebut. Sementara itu, pengetahuan tashdiq juga terbagi menjadi dua: relasi aksiomatik (musallamah) yang kebenarannya tidak perlu pembuktian dan relasi hipotetik (nazhariah) yang harus dibuktikan kebenarannya. Alat pembuktian itu disebut demonstrasi (sylogisme).Dengan demikian, pokok bahasan mantik tersimpul pada empat komponen, yaitu pembahasan tentang tashawwur, had (definisi), tashdiq dan sylogisme. Di atas

SPIRITUAL SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

SPIRITUAL SYEKH ABDUL QADIR AL- JAILANI

Jangan Pernah Berhenti Mendengar Nasihat
Hati Akan Buta Tanpa Nasihat
Jangan Remehkan Petuah Ulama
Petuah Mereka Adalah Sari Wahyu Allah
(Syekh Abdul Qadir Al- Jailani)

Itulah salah satu petikan nasihat- nasihat beliau yang isinya menyapa langsung sanubari kita.
Sederhana tetapi mengena, begitulah aroma keunikan pesan, dialog, dan perumpamaan dalam nasihat yang selalu beliau sampaikan.
***

Syekh Abdul Qodir Jaelani bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani lahir tahun 470 H/1077 M dan wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib pada 9 Rabi’ul Akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Pada saat melahirkannya, ibunya sudah berusia 60 tahun. Ia dilahirkan di sebuah tempat yang bernama Jailan. Karena itulah di belakang namanya terdapat julukan Jailani. Penduduk Arab dan sekitarnya memang suka menambah nama mereka dengan nama tempat tinggalnya.

Syekh Abdul Qadir Jailani dikenal dengan berbagai gelar atau sebutan seperti Muhyiddin, al Ghauts al Adham, Sultan al Auliya, dan sebagainya. Beliah masih keturunan Rasulullah SAW. Ibunya yang bernama Ummul Khair Fatimah, adalah keturunan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Jadi, silsilah keluarga Syekh Abdul Qadir Jailani jika diurutkan ke atas, maka akan sampai ke Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.

Syekh Abdul Qadir Jailani lahir dan dididik dalam lingkungan keluarga sufi, ia tumbuh dibawah tempaan ibunya. Sejak kecil, Abdul Qadir telah tampak berbeda dari anak-anak lain, ia tidak suka bermain-main bersama anak-anak lain. Sejak usia dini ia terus mematangkan kekuatan batin yang dimilikinya, ia belajar mengaji sejak berusia sepuluh tahun.

Mengembara

Diusia 18 tahun ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (488 H/1095 M) untuk mencari ilmu. Kemudian berangkatlah Abdul Qadir ke Baghdad, Baghdad adalah ibukota Irak. Saat itu Baghdad adalah sebuah kota yang paling ramai di dunia. Di Baghdad berkembang segala aktiitas manusia, ada yang datang untuk berdagang atau bisnis, mencari pekerjaan atau menuntut ilmu. Baghdad merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar pada saat itu dengan khalifah atau penguasa yang memimpin saat itu Khalifah Muqtadi bi-Amrillah dari dinasti Abbasiyyah.

Ketika Syekh Abdul Qadir hampir memasuki kota Baghdad, ia dihentikan oleh Nabi Khidir as. Nabi Khidir adalah seorang Nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan diyakini para ulama masih hidup hingga kini. Saat menemui Abdul Qadir itu, Nabi Khidir mencegahnya masuk ke kota Bagdad itu. Nabi Khidir berkata, “Aku tidak mempunyai perintah (dari Allah) untuk mengijinkanmu masuk (ke Baghdad) sampai 7 tahun ke depan.”

Tujuh Tahun Tinggal di Tepi Sungai

Situasi tersebut membuat Abdul Qadir bingung, mengapa ia tidak diperbolehkan masuk ke kota Baghdad selamatujuh tahun? Tetapi Abdul Qadir tahu, bahwa jika yang mengatakan itu adalah Nabi Khidir, tentu dia harus mengikuti perntahnya tersebut. Oleh karena itu, Abdul Qadir pun kemudian menetap di tepi sungai Tigris selama 7 tahun. Tentu sangat berat, selama dia hidup bersamaorang tua dan saudara-saudaranya di rumah, sekarang harus hidup sendiri di tepi sebuah sungai. Tidak ada yang dapat dimakannya kecuali daun-daunan. Maka selama tujuh tahun itu ia memakan dedaunan dan sayuran yang bisa dimakan.

Pada suatu malam ia tertidur pulas, sampai akhirnya ia terbangun di tengah malam. Ketika itu ia mendengar suara yang jelas ditujukan kepadanya. Suara itu berkata, “Hai Abdul Qadir, masuklah ke Baghdad.” Keesokan harinya, iapun mengadakan perjalanan ke Baghdad. Maka, ia pun masuk ke Baghdad. Di kota itu ia berjumpa dengan para Syekh, tokoh-tokoh sufi, dan para ulama besar. Di antaranya adalah Syekh Yusuf al Hamadani. Dari dialah Abdul Qadir mendapat ilmu tentang tasawuf. Syaikh al Hamadani sendiri telah menyaksikan bahwa Abdul Qadir adalah seorang yang istimewa, dan kelak akan menjadi seorang yang terkemuka di antara para wali.

Berguru Kepada Para Ulama Besar

Syekh al-Hamdani berkata, “Wahai Abdul Qadir, sesungguhnya aku telah melihat bahwa kelak engkau akan duduk di tempat yang paling tinggi di Baghdad, dan pada saat itu engkau akan berkata, “Kakiku ada di atas pundak para wali.”

Selain berguru kepada Syaikh Hamdani, Abdul Qadir bertemu dengan Syaikh Hammad ad-Dabbas, ia pun berguru kepadanya. Dari Syekh Hammad, Abdul Qadir mendapatkan ilmu Tariqah, adapun akar dari tariqahnya adalah Syari’ah. Dalam taiqahnya itu beliau mendekatkan diri pada Allah dengan doa siang malam melalui dzikir, shalawat, puasa sunnah, zakat maupun shadaqah, zuhud dan jihad, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri. Kemudian Syekh Abdul Qadir berguru pada al Qadi Abu Said al Mukharimi.

Dan dari Syekh al Mukharimi itulah Syaikh Abdul Qadir menerima khirqah (jubah ke-sufi-an). Khirqoh itu secara turun-temurun telah berpindah tangan dari beberapa tokoh sufi yang agung. Di antaranya adalah Syekh Junaid al-Baghdadi, Syekh Siri as-Saqati, Syekh Ma’ruf al Karkhi, dan sebagainya.

Syekh Abdul Qadir tidak hanya berguru kepada para ulama di atas, ia juga memperdalam ilmunya kepada para ulama besar seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Kesemuanya adalah para ulama besar yang ilmunya sangat luas dalam bidang agama. Sebab itulah, tidak heran jika kemudian Syekh Abdul Qadir menjadi ulama besar menggantikan para ulama tersebut.

Di Babul Azaj, Syekh al Mukharimi mempunyai madrasah kecil. Karena beliau telah tua, maka pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada Abdul Qadir. Di situlah Syekh Abdul Qadir berdakwah pada masyarakat, baik yang muslim maupun non-muslim.

Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh, bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang. Banyak orang yang bertaubat mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah itu tidak cukup untuk menampung orang yang datang ingin berguru kepada Syekh Abdul Qadir.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab. Ia berdakwah kepada semua lapisan masyarakat, hingga dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syekh Abdul Qadir Jailani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq. Akhirnya beliau dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya, Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M). Kemudian diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syekh Abdul Qadir Jailani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M). Namun sayang sekali, sekolah yang besar itu akhirnya hancur ketika Baghdad diserang oleh tentara Mongol yang biadab pada tahun 656 H/1258 M.

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qadir Al- Jailani memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah.” Seperti yang tertuang dalam karya- karyanya: seperti Tafsir Al Jilani, al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, Jala’ al-Khawathir, Sirr al-Asrar, Asror Al Asror, Malfuzhat, Khamsata “Asyara Maktuban, Ar Rasael, Ad Diwaan, Sholawat wal Aurod, Yawaqitul Hikam, Jalaa al khotir, Amrul muhkam, Usul as Sabaa, Mukhtasar ulumuddin

Syekh Abdul Qadir Jailani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia bernama Tarekat Qodiriyah.

Tarekat (thariqah) secara harfiah berarti “jalan” sama seperti syariah, sabil, shirath dan manhaj. Yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya. Semua perkataan yang berarti jalan itu terdapat dalam Alquran. Seperti QS Al- Jin:16, “Kalau saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah) pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang melimpah ruah”.

Istilah thariqah dalam perbendaharaan kesufian, merupakan hasil makna semantik perkataan itu, semua yang terjadi pada syariah untuk ilmu hukum Islam. Setiap ajaran esoterik/ bathini mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, tak bisa dibuat untuk orang umum (awam). Segi-segi eksklusif tersebut misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat “rahasia” yang bobot kerohaniannya berat, sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab itu mengamalkan tarekat itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai’at dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang dari guru tarekat sebelumnya. Seperti terlihat pada silsilah ulama sufi dari Rasulullah saw, sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama sufi di Indonesia.

Tarekat Qodiriyah
Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al- Jaelani. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13, namun baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M.

Syekh Abdul Qadir adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat.
Garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini berasal dari Sayidina Muhammad Rasulullah SAW,
kemudian turun temurun berlanjut melalui Sayidina Ali bin Abi Thalib ra,
Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra,
Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra,
Sayidina Muhammad Baqir ra,
Sayidina Al-Imam Ja’far As Shodiq ra,
Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim,
Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido,
Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi,
Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti,
Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi,
Syaikh Abu Bakar As-Syibli,
Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi,
Syaikh Abul Faraj Altartusi,
Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari,
Syaikh Abu Sa’id Mubarok Al Makhhzymi,
Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS atau Syekh Abdul Qadir Al- Jailani.

Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes, yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”

Karena keluwesannya tersebut, terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qodiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir, semuanya di India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, Waslatiyyah. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiyyah, Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Sedangkan di Afrika terdapat tarekat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’ Aliyya, Manzaliyah dan tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul Qodir Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga setelah keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut “Syurafa Jilala”.

Tarekat Qodiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendekatkan diri dan mendapat ridho dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.

Tarekat Qodiriyah di Indonesia

Sejarah tarekat Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al- Musyarrafah. Tarekat Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syeikh Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syeikh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qodiriyah. Murid-murid Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar Tarekat Qodiriyah tersebut.

Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda. Sementara itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari tarekat Qodiriyah adalah organisasi tebrbesar Islam Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Bahkan tarekat yang dikenal sebagai Qadariyah Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia.

Inti Ajaran Dasar Tarekat Qodiriyah

Ada 2 hal yang melandasi inti ajaran Tarekah Qodiriyah, yaitu:
1. Berserah diri (lahir-bathin) kepada Allah. Seorang muslim wajib menyerahkan segala hal kepada Allah, mematuhi perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
2. Mengingat dan menghadirkan Allah dalam kalbunya. Caranya, dengan menyebut Asma Allah dalam setiap detak-nafasnya. Bagaimana pun, dzikrullah adalah suatu perbuatan yang mampu menghalau karat lupa kepada Allah, menggerakan keikhlasan jiwa, dan menghadirkan manusia duduk bertafakur sebagai hamba Allah. Hal ini merujuk pada hadist riwayat Ibnu Abid Dunya dari Abdullah bin Umar berikut:
Sebenarnya setiap sesuatu ada pembersihnya, dan bahwa pembersih hati manusia adalah berdzikir, menyebut Asma Allah, dan tiadalah sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah kecuali dzikrullah.

Kedua hal ini, menurut Syekh Abdul Qadir, akan membawa seorang manusia senantiasa bersama Allah. Sehingga segala aktivitasnya pun bernilai ibadah. Lebih lanjut, beliau juga menandaskan bahwa keimanan ini merupakan landasan bagi terwujudnya tatanan sosial yang lebih baik lagi. Lebih jauh, sebuah tatanan negara yang Islami dan memenuhi aspek kebaikan universal.

Bai’at

Untuk mengamalkan tarekat ini melalui tahapan-tahan seperti:
1. Adanya pertemuan guru (syekh) dan murid, murid mengerjakan salat dua rakaat (sunnah muthalaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laailaha Illa Allah, dan guru mengucapkan “infahna binafhihi minka” dan dilanjutkan dengan ayat mubaya’ah (QS Al-Fath 10). Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, membaiat sebagai murid, berdoa dan minum.
2. Tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya (mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan pada para nabi dan wali.

Dengan mengamalkan ajaran tarekat dengan baik (khususnya dzikir), maka seseorang akan terbuka kesadarannya untuk dapat mengamalkan syari’at dengan baik, walaupun secara kognetif tidak banyak memiliki ilmu keislaman. Karena ia akan mendapat pengetahuan dari Tuhan (ma’rifah) dan cinta Tuhan (mahabbah), karena buah (tsamrah) nya dzikir. Dan juga karena buahnya dzikir, maka dalam diri seseorang terjadi penyucian jiwa (tazkiyat al-nafsi). Dan dengan jiwa yang suci seseorang akan dengan ringan dapat melaksanakan syari’at Allah.

Kenal dan cinta kepada Allah adalah kunci kebahagiaan hidup, kenyakinan para sufi memang “Mengenal Allah adalah permulaan orang beragama”. Dan karena secara empiris kebenaran logika ini telah terbukti, bahwa orang-orang yang telah diperkenalkan dengan Tuhan dan diajari (ditalqin) menyebut Asma Allah berubah menjadi manusia yang berkepribadian baik. (*)